Apresiasi Naskah Sejarah, Mahasiswa Gelar Dramatari

INILAH, Bandung – Departemen Pendidikan Seni Tari FPSD UPI menggelar pertunjukan dramatari dengan judul Purnamasari Silalatu Pajajaran di teater tertutup Taman Budaya Dago Tea House, Jalan Bukit Dago Atas, Kota Bandung, Senin (18/6/2019). 

Salah seorang dosen pembimbing, Ayo Sunaryo, M.Pd., mengatakan, pertunjukan dramatari ini merupakan persembahan Mahasiswa Departemen Pendidikan Seni Tari angkatan 2016 sebagai aplikasi dari perkuliahan.

Pagelaran ini mengisahkan kepahlawanan putri Purnamasari anak dari Prabu Siliwangi yang membela Kerajaan Pajajaran dan kisah cinta yang membuat ia hancur selama hidupnya.

Pihaknya pernah menggarap teater Perang Bubat tentang perang antara Kerajaan Pajajaran dan Majapahit dipentaskan pada tahun 2016, lalu kisah Sang Hyang Hawu atau Prabu Jaya Perkasa yang menjadi Raja Sumedang Larang dan sebelumnya sebagai Patih di Kerajaan Pakuan Pajajaran di tahun 2017.

“Pada pagelaran dramatari hari ini, kita menggarap tentang putri Purnamasari Silalatu Pajajaran. Jadi dramatari yang digelar hari ini merupakan rangkaian dalam mengungkap kisah dan sejarah Kerajaan Pajajaran,” ujar Ayo Sunaryo.

Dia menambahkan, cerita putri Purnamasari sarat dengan nilai-nilai historis lokal yang harus diketahui generasi zaman sekarang. Oleh karena itu, tema ini diangkat karena anak muda sekarang masih kurang untuk menghayati naskah sejarah terutama sejarah yang ada di Jawa Barat.

Dalam proses persiapan pagelaran sendiri cukup lama, kurang lebih tiga bulan. Kesulitannya, dalam menuangkan cerita dalam naskah dalam sebuah koreografi karena naskahnya sendiri disakralkan sehingga tidak bisa dibaca dan ditelaah secara utuh. Hanya berdasarkan informasi-informasi pokok yang disampaikan langsung pewaris naskah.

“Untuk mahasiswa angkatan 2016, terlibat sebagai pemeran dan menjadi salah satu bahan penilaian akademis. Mulai dari penilaian secara koreografi, manajemen pertunjukan, hingga publikasi,” ungkapnya.

Menurut Ayo, saat ini apresiasi mahasiswa terhadap naskah-naskah sejarah di Jawa Barat sudah menunjukkan peningkatan, asalkan bisa mengemas secara profesional untuk kebutuhan pertunjukan maka akan lebih menarik minat dari anak muda zaman sekarang baik dari kalangan siswa pelajar, mahasiswa maupun para apresiator seni, khususnya seni pertunjukan.

“Langkah strategis dalam mewariskan budaya lokal kepada generasi sekarang tentunya tidak mudah, perlu kemasan baru supaya mereka bisa memahami sejarah tersebut, dengan seni pertunjukan maka naskah tersebut bisa mereka pahami,” kata Ayo.

Dia berharap, kepada generasi sekarang, dalam mengemas seni pertunjukan untuk mengedepankan naskah-naskah lokal karena hal ini masih kurang diminati untuk digarap, padahal naskah lokal ini sarat dengan nilai-nilai histori tentunya jika pertunjukan seni ini digarap dengan kondisi saat ini maka naskah lokal tersebut tidak lagi dianggap naskah kuno.

Dalam dramatari sendiri, sekitar 250 mahasiswa Departemen Pendidikan Seni Tari FPSD UPI terlibat secara langsung. Baik, sebagai pemeran dalam dramatari, pemusik, hingga dalam kepanitiaan pagelaran. (Okky Adiana)